Seringkali orang mempertanyakan, mengapa pertumbuhan ekonomi meningkat, namun jumlah penduduk miskin juga meningkat? Mengapa pertumbuhan ekonomi meningkat, jumlah pengangguran juga meningkat? Pertanyaan tersebut seolah menjadi tanda tanya besar bagi seorang analis maupun pemangku kepentingan.
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dihitung dari output Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu wilayah yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau non residen. Dengan kata lain ada factor produksi non residen yang harus dikeluarkan dan factor produksi residen yang dimasukkan karena memiliki pendapatan di luar wilayah bersangkutan. Secara sederhana dapat diilustrasikan bahwa seorang konglomerat di wilayah A memiliki perusahaan di wilayah B, maka pendapatan konglomerat tersebut harus dikeluarkan dari wilayah B untuk mendapatkan pendapatan factor produksi neto. Contoh sebaliknya yakni seorang konglomerat di wilayah B memiliki perusahaan di wilayah A maka pendapatan konglomerat tersebut merupakan pendapatan tambahan wilayah B dan pengurang bagi wilayah A.
Pendapatan regional yang sesungguhnya diukur setelah dikurangi pendapatan faktor neto. Sehingga diperoleh pendapatan yang benar-benar dinikmati oleh residen. Ketika pendapatan factor neto tersebut belum dikeluarkan dari penghitungan PDRB, tidak berlaku hubungan kebalikan antara pertumbuhan ekonomi dengan kemiskinan serta pengangguran. Mengapa demikian?
Tentu saja hal ini dikarenakan pendapatan factor neto yang sering terabaikan adalah pendapatan dari perusahaan-perusahaan besar yang bertujuan memperkaya pemilik perusahaan saja. Pendapatan perusahaan tersebut tidak dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Seringkali pendapatan suatu perusahaan menunjukkan peningkatan setiap tahun sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi juga terus meningkat meskipun kemiskinan dan pengangguran merajalela.
Permasalahan kemiskinan merupakan hal yang sangat kompleks. Ketika orang dikatakan miskin juga memiliki ukuran relative. Badan Pusat Statistik memandang kemiskinan sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar