Sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden, Badan Pusat Statistik mengemban amanah sebagai penyedia data dan informasi statistik yang berkualitas. Dalam bukunya yang berjudul “Dictionary of Data Management” Mark Mosley (2008) menyatakan bahwa data disebut berkualitas jika memenuhi dimensi berikut: akurat (accurate), lengkap (complete), timely (update), konsisten (consistent) serta sesuai dengan kebutuhan pengguna data. Itu artinya, sebagai penyedia data, BPS memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, mencakup semua sektor, tersedia tepat waktu pada jadwal yang sudah ditentukan, memiliki konsistensi dengan informasi terkait serta sesuai dengan kebutuhan pengguna data.
Data yang berkualitas memainkan peran sangat penting dalam mendukung pemerintah ketika hendak memutuskan suatu kebijakan misalnya terkait importasi beras. Dukungan data yang berkualitas sebagai pijakan adalah sebuah keharusan karena kebijakan ini memiliki dampak yang luas, tidak hanya dari sisi ekonomi, tapi juga sosial dan politik. Dalam hal ini, data-data yang dihasilkan BPS, seperti inflasi, produksi, dan harga beras memainkan peran yang sangat krusial. Hal yang sama juga terjadi pada kebijakan terkait inflasi, tanpa dukungan data mikro inflasi berupa daftar harga berbagai jenis bahan makanan dan non makanan melalui pendataan Survei Harga Konsumen (SHK) misalnya, upaya pengendalian kestabilan perekonomian tidak akan efektif.
Sebagai bentuk komitmen dalam menyediakan data yang berkualitas, selama ini bisnis proses BPS dalam menghasilkan data statistik telah dirancang melalui Standard Operating Procedure (SOP) yang menjamin bahwa data yang dihasilkan memenuhi semua dimensi data berkualitas. Selama ini BPS telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas data secara berjenjang mulai dari tahap perencanaan hingga diseminasi. Hal-hal yang telah dilakukan oleh BPS antara lain melaksanakan perekrutan petugas pencacah mitra kw-1 (kualitas 1), menyusun database mitra berkualitas, melakukan monitoring pengumpulan data oleh pengawas, memanfaatkan teknologi grup whatsapp untuk melancarkan komunikasi insan BPS, melakukan pelayanan statistik terpadu, melakukan penyempurnaan pelayanan statistik dengan membangun RSS feeder, menyusun ARC (Advance Release Calendar) publikasi BPS di website BPS dan monitoring kualitas data online melalui website http:/monitoring.bps.go.id/.
Bisnis proses BPS dalam menghasilkan data berkualitas tentu saja membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Terkait hal ini, ada ungkapan yang sudah sering kita dengar: data itu mahal, tapi akan lebih mahal lagi jika membangun tanpa data. Akhir-akhir ini, penghematan anggaran belanja negara merupakan isu nasional. Hal tersebut terpaksa dilakukan pemerintah untuk mengurangi defisit anggaran karena target penerimaan pajak yang tidak sesuai harapan. Hingga saat ini, penghematan anggaran telah dua kali dilakukan oleh pemerintah, yakni pada Juni 2016 sebesar 50 triliun dan Agustus 2016 sebanyak 133 triliun. Sebagai konsekuensinya, anggaran sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk BPS, mengalami pemangkasan. Bagi BPS, hal ini secara otomatis bakal berdampak signifikan terhadap kegiatan survei rutin yang selama ini dilakukan BPS, seperti Susenas dan Sakernas. Tak bisa dipungkiri, pemangkasan anggaran survei dapat berdampak terhadap kualitas data terutama dari segi cakupan dan periode penyajian data.
Namun demikian, meski dampak pemangkasan anggaran tak bisa dielakkan, sebetulnya ada sejumlah upaya yang dapat kita lakukan sebagai insan BPS untuk menjaga dan meningkatkan kualitas data yang dihasilkan BPS. Alasannya sederhana, sebagai insan BPS kita terlibat langsung dalam bisnis proses untuk menghasilkan data yang berkualitas sesuai peran yang kita emban. Salah satu upaya konkrit yang dapat dilakukan sebagai insan BPS adalah dengan menerapkan core value BPS yakni Profesional, Integritas, dan Amanah secara sungguh-sungguh dalam lingkungan kerja. Penerapan nilai-nilai ini tentu akan berdampak signifikan terhadap kualitas data karena mendorong kita untuk bekerja dengan sepenuh hati dan mendedikasikan kemampuan terbaik yang kita miliki demi menghasilkan data statistik yang berkualitas. Internalisasi nilai-nilai inti BPS tersebut harus dilakukan oleh semua insan BPS mulai dari KSK hingga kepala kantor.
Semua insan BPS harus mampu bekerja dengan tulus namun tetap mengedepankan kualitas data. KSK, sebagai ujung tombak BPS memainkan peran sebagai koordinator lapangan yang mampu mengerjakan berbagai jenis survei dengan metode kalender harian sehingga dalam satu hari dapat mengerjakan beberapa survei di lokasi yang berdekatan. Kepala Seksi bersama staf harus mampu mengelaborasikan antara kreatifitas dan kualitas data dengan menciptakan publikasi berbasis infografis maupun menciptakan aplikasi android berbasis survei. Kepala BPS bersama jajarannya harus menciptakan terobosan baru seperti menyusun survei terintegrasi, membentuk sistem electronic brainstorming BPS yakni media elektronik yang mampu menampung aspirasi dari semua BPS kabupaten/kota dan BPS Provinsi sehingga permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan lebih cepat seperti aplikasi android messenger. Menjadi seorang yang berprestasi di tengah kemapanan adalah hal yang biasa namun menjadi seorang yang berprestasi dalam kondisi serba terbatas merupakan hal yang luar biasa. Majulah BPS.
;;S.T.A.T.I.S.T.I.K.A;;
Selasa, 31 Oktober 2017
PERTUMBUHAN EKONOMI MENINGKAT, KOK KEMISKINAN MENINGKAT JUGA?
Seringkali orang mempertanyakan, mengapa pertumbuhan ekonomi meningkat, namun jumlah penduduk miskin juga meningkat? Mengapa pertumbuhan ekonomi meningkat, jumlah pengangguran juga meningkat? Pertanyaan tersebut seolah menjadi tanda tanya besar bagi seorang analis maupun pemangku kepentingan.
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dihitung dari output Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu wilayah yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau non residen. Dengan kata lain ada factor produksi non residen yang harus dikeluarkan dan factor produksi residen yang dimasukkan karena memiliki pendapatan di luar wilayah bersangkutan. Secara sederhana dapat diilustrasikan bahwa seorang konglomerat di wilayah A memiliki perusahaan di wilayah B, maka pendapatan konglomerat tersebut harus dikeluarkan dari wilayah B untuk mendapatkan pendapatan factor produksi neto. Contoh sebaliknya yakni seorang konglomerat di wilayah B memiliki perusahaan di wilayah A maka pendapatan konglomerat tersebut merupakan pendapatan tambahan wilayah B dan pengurang bagi wilayah A.
Pendapatan regional yang sesungguhnya diukur setelah dikurangi pendapatan faktor neto. Sehingga diperoleh pendapatan yang benar-benar dinikmati oleh residen. Ketika pendapatan factor neto tersebut belum dikeluarkan dari penghitungan PDRB, tidak berlaku hubungan kebalikan antara pertumbuhan ekonomi dengan kemiskinan serta pengangguran. Mengapa demikian?
Tentu saja hal ini dikarenakan pendapatan factor neto yang sering terabaikan adalah pendapatan dari perusahaan-perusahaan besar yang bertujuan memperkaya pemilik perusahaan saja. Pendapatan perusahaan tersebut tidak dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Seringkali pendapatan suatu perusahaan menunjukkan peningkatan setiap tahun sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi juga terus meningkat meskipun kemiskinan dan pengangguran merajalela.
Permasalahan kemiskinan merupakan hal yang sangat kompleks. Ketika orang dikatakan miskin juga memiliki ukuran relative. Badan Pusat Statistik memandang kemiskinan sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dihitung dari output Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu wilayah yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau non residen. Dengan kata lain ada factor produksi non residen yang harus dikeluarkan dan factor produksi residen yang dimasukkan karena memiliki pendapatan di luar wilayah bersangkutan. Secara sederhana dapat diilustrasikan bahwa seorang konglomerat di wilayah A memiliki perusahaan di wilayah B, maka pendapatan konglomerat tersebut harus dikeluarkan dari wilayah B untuk mendapatkan pendapatan factor produksi neto. Contoh sebaliknya yakni seorang konglomerat di wilayah B memiliki perusahaan di wilayah A maka pendapatan konglomerat tersebut merupakan pendapatan tambahan wilayah B dan pengurang bagi wilayah A.
Pendapatan regional yang sesungguhnya diukur setelah dikurangi pendapatan faktor neto. Sehingga diperoleh pendapatan yang benar-benar dinikmati oleh residen. Ketika pendapatan factor neto tersebut belum dikeluarkan dari penghitungan PDRB, tidak berlaku hubungan kebalikan antara pertumbuhan ekonomi dengan kemiskinan serta pengangguran. Mengapa demikian?
Tentu saja hal ini dikarenakan pendapatan factor neto yang sering terabaikan adalah pendapatan dari perusahaan-perusahaan besar yang bertujuan memperkaya pemilik perusahaan saja. Pendapatan perusahaan tersebut tidak dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Seringkali pendapatan suatu perusahaan menunjukkan peningkatan setiap tahun sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi juga terus meningkat meskipun kemiskinan dan pengangguran merajalela.
Permasalahan kemiskinan merupakan hal yang sangat kompleks. Ketika orang dikatakan miskin juga memiliki ukuran relative. Badan Pusat Statistik memandang kemiskinan sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.
TAPANULI TENGAH , JUMLAH USAHA MELESAT 4 PERSEN
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara telah merilis angka jumlah usaha hasil Sensus Ekonomi 2016 (SE 2016). Bak anak ayam keluar dari cangkangnya. Angka hasil SE 2016 telah dinanti-nantikan oleh banyak orang khususnya pemerintah, pengusaha, dan akademisi. Jumlah usaha SE 2016 di Tapanuli Tengah sebanyak 25.846 usaha. Dengan kata lain tahun 2016, jumlah usaha SE Tapanuli Tengah naik 4 persen dibandingkan SE 2006.
Jumlah usaha hasil SE 2016 didominasi oleh Usaha Mikro Kecil (UMK) dibandingkan Usaha Mikro Besar (UMB). Kontribusi jumlah UMK di Tapanuli Tengah sebesar 99 persen dibandingkan jumlah usaha total hasil SE2016 dan sisanya 1 persen adalah UMB. Jumlah usaha UMK adalah 25.689 usaha dan UMB adalah 157 usaha. Seiring dengan hal tersebut, jumlah tenaga kerja yang terserap di UMK sebesar 90 persen atau 46.494 orang. Sisanya, 10 persen sebagai tenaga kerja perusahaan UMB.
Salah satu penggerak roda perekonomian di Tapanuli Tengah adalah sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor. Dimana jumlah usaha sector ini 48 persen dibandingkan sector lain atau sebanyak 12.514 usaha. Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor telah menyerap tenaga kerja sebanyak 17.068 orang. Dengan kata lain, rata-rata jumlah tenaga kerja di sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor adalah 1 hingga 2 tenaga kerja per usaha.
Sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin merupakan sektor yang menonjol di Tapanuli Tengah. Sektor ini menyerap tenaga kerja paling banyak dibandingkan sektor lain. Meskipun hanya memiliki jumlah usaha 36, namun memiliki jumlah tenaga kerja sebanyak 520 orang. Hal ini disebabkan karena terdapat Usaha Mikro Besar (UMB) sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin yang telah menampung penduduk usia produktif untuk bekerja.
Sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum memiliki daya saing yang rendah. Padahal sektor tersebut memiliki potensi menjadi stimulus melonjaknya pertumbuhan ekonomi di Tapanuli Tengah. Sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum merupakan salah satu sektor unggulan namun termasuk sektor yang lamban. Hal ini disebabkan karena sektor ini tidak mampu bersaing dengan daerah di sekitarnya sehingga memiliki pergerakan yang lamban.
Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor unggulan dilihat dari jumlah tenaga kerja dan merupakan sektor progresif. Hal ini dikarenakan sektor konstruksi memiliki daya saing yang tinggi dan sangat berperan di Tapanuli Tengah. Sektor konstruksi memberikan nilai tambah yang cukup tinggi terhadap perekonomian Tapanuli Tengah. Selain itu sektor konstruksi telah menyerap tenaga kerja yang cukup banyak dimana rata-rata 1 usaha sektor konstruksi menyerap 11 hingga 12 tenaga kerja. Jumlah usaha sektor konstruksi adalah 129 dengan jumlah tenaga kerja 1.460 orang.
Sektor industri pengolahan termasuk usaha dengan jumlah terbanyak ketiga di Tapanuli Tengah. Jumlah usaha sektor industry pengolahan sebanyak 2.568 usaha. Rata-rata setiap usaha sektor industry pengolahan memiliki jumlah tenaga kerja 2 hingga 3 orang. Adapun jumlah keseluruhan tenaga kerja sektor industri pengolahan adalah 6.814 orang.
Padi masak jagung mengupih, ibarat mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Tapanuli Tengah harus mampu memanfaatkan peran sektor unggulan yang masih memiliki pergerakan lamban. Selain itu, upaya meningkatkan daya saing usaha di semua sektor harus digalakkan. Karena Tapanuli Tengah memiliki potensi usaha yang sangat baik.
Jumlah usaha hasil SE 2016 didominasi oleh Usaha Mikro Kecil (UMK) dibandingkan Usaha Mikro Besar (UMB). Kontribusi jumlah UMK di Tapanuli Tengah sebesar 99 persen dibandingkan jumlah usaha total hasil SE2016 dan sisanya 1 persen adalah UMB. Jumlah usaha UMK adalah 25.689 usaha dan UMB adalah 157 usaha. Seiring dengan hal tersebut, jumlah tenaga kerja yang terserap di UMK sebesar 90 persen atau 46.494 orang. Sisanya, 10 persen sebagai tenaga kerja perusahaan UMB.
Salah satu penggerak roda perekonomian di Tapanuli Tengah adalah sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor. Dimana jumlah usaha sector ini 48 persen dibandingkan sector lain atau sebanyak 12.514 usaha. Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor telah menyerap tenaga kerja sebanyak 17.068 orang. Dengan kata lain, rata-rata jumlah tenaga kerja di sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor adalah 1 hingga 2 tenaga kerja per usaha.
Sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin merupakan sektor yang menonjol di Tapanuli Tengah. Sektor ini menyerap tenaga kerja paling banyak dibandingkan sektor lain. Meskipun hanya memiliki jumlah usaha 36, namun memiliki jumlah tenaga kerja sebanyak 520 orang. Hal ini disebabkan karena terdapat Usaha Mikro Besar (UMB) sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin yang telah menampung penduduk usia produktif untuk bekerja.
Sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum memiliki daya saing yang rendah. Padahal sektor tersebut memiliki potensi menjadi stimulus melonjaknya pertumbuhan ekonomi di Tapanuli Tengah. Sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum merupakan salah satu sektor unggulan namun termasuk sektor yang lamban. Hal ini disebabkan karena sektor ini tidak mampu bersaing dengan daerah di sekitarnya sehingga memiliki pergerakan yang lamban.
Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor unggulan dilihat dari jumlah tenaga kerja dan merupakan sektor progresif. Hal ini dikarenakan sektor konstruksi memiliki daya saing yang tinggi dan sangat berperan di Tapanuli Tengah. Sektor konstruksi memberikan nilai tambah yang cukup tinggi terhadap perekonomian Tapanuli Tengah. Selain itu sektor konstruksi telah menyerap tenaga kerja yang cukup banyak dimana rata-rata 1 usaha sektor konstruksi menyerap 11 hingga 12 tenaga kerja. Jumlah usaha sektor konstruksi adalah 129 dengan jumlah tenaga kerja 1.460 orang.
Sektor industri pengolahan termasuk usaha dengan jumlah terbanyak ketiga di Tapanuli Tengah. Jumlah usaha sektor industry pengolahan sebanyak 2.568 usaha. Rata-rata setiap usaha sektor industry pengolahan memiliki jumlah tenaga kerja 2 hingga 3 orang. Adapun jumlah keseluruhan tenaga kerja sektor industri pengolahan adalah 6.814 orang.
Padi masak jagung mengupih, ibarat mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Tapanuli Tengah harus mampu memanfaatkan peran sektor unggulan yang masih memiliki pergerakan lamban. Selain itu, upaya meningkatkan daya saing usaha di semua sektor harus digalakkan. Karena Tapanuli Tengah memiliki potensi usaha yang sangat baik.
Kamis, 13 Februari 2014
Statistik Kesehatan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2012
Sarana kesehatan di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2012 meliputi 6 rumah sakit, 20 puskermas, dan 9 rumah bersalin. Rumah sakit terletak di Kecamatan Tebing Tinggi sebanyak 1 rumah sakit, 1 rumah sakit di Kecamatan Sei Rampah, 1 rumah sakit di Kecamatan Sei Bamban, dan 3 rumah sakit di Kecamatan Perbaungan. Adapun rumah bersalin tersebar di beberapa kecamatan yaitu 1 rumah bersalin di Kecamatan Dolok Masihul, 1 rumah bersalin di Kecamatan Tebing Tinggi, 1 rumah bersalin di Kecamatan Sei Rampah, 5 rumah bersalin di Kecamatan Perbaungan, dan 1 rumah bersalin di Kecamatan Pegajahan. Puskesmas tersebar di seluruh kecamatan di kabupaten Serdang Bedagai.
Sarana kesehatan didukung oleh adanya tenaga kesehatan. Banyaknya tenaga kesehatan di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2012 ada yang mengalami penambahan dan ada yang mengalami penurunan. Jumlah dokter umum meningkat dari 107 menjadi 116 dokter, Banyaknya dokter gigi menurun dari 34 menjadi 33. Jumlah bidan meningkat dari 251 menjadi 261.
Jumlah perawat mengalami penurunan dari 133 menjadi 129. Sedangkan jumlah perawat gigi mengalami kenaikan dari 11 menjadi 18.
Penolong kelahiran terakhir adalah tenaga kesehatan yang menolong ibu melahirkan saat terakhir akan melahirkan. Penolong kelahiran tahun 2012 mengalami pergeseran dimana semakin banyak ibu melahirkan yang ditolong oleh dukun atau meningkat dari 2,93 persen menjadi 4,82 persen. Penolong kelahiran terakhir oleh dokter menurun dari 14,93 persen tahun 2011 menjadi 13,54 persen tahun 2012. Adapun penolong tenaga kesehatan terakhir oleh bidan mengalami penurunan dari 80,50 persen menjadi 80,43 persen. Adapun penolong kelahiran terakhir oleh family di tahun 2012 sudah tidak ada lagi dimana pada tahun 2011 sebanyak 0,79 persen.
Kasus penyakit terbanyak di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2012 adalah Infeksi akut pada saluran pernapasan atas sebanyak 31 persen, 12 persen penyakit diare, 11 persen penyakit pada sistem otott dan jaringan, 9 persen penyakit tekanan darah tinggi, 9 persen penyakit lain pada saluran pernapasan bagian atas, 8 persen gastritis, 7 persen penyakit demam, 5 persen penyakit kulit alergi, 4 persen infeksi usus lain, dan 4 persen karies gigi.
Jumlah bayi dengan gizi buruk di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2008 sebanyak 95 jiwa, tahun 2009 sebanyak 85 jiwa, tahun 2010 sebanyak 65 jiwa, adapun tahun 2012 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011. Jumlah bayi gizi buruk tahun 2012 mencapai 87 jiwa atau turun 62,17 persen dibandingkan dengan tahun 2011. Hal ini menunjukkan gizi ibu hamil semakin meningkat di tahun 2012.
Persentase anak usia balita yang disusui selama 0 bulan adalah 2 persen, selama 1-5 bulan sebanyak 18 persen, selama 6-11 bulan sebanyak 17 persen, selama 12-17 bulan sebanyak 26 persen, selama 18-23 bulan sebanyak 16 persen dan balita yang disusui selama lebih dari 23 bulan sebanyak 21 persen. Hal ini menunjukkan bahwa program pemerintah dalam upaya pemberian asi eksklusif sudah tergolong lancar.
Angka harapan hidup di Kabupaten Serdang Bedagai meningkat dari tahun 2008 hingga 2012. Angka harapan hidup tahun 2008 mencapai 68,79 tahun. Angka harapan hidup tahun 2009 mencapai 68,89 tahun, tahun 2010 mencapai 68,98 tahun, tahun 2011 mencapai 69,08 tahun sedangkan tahun 2012 mencapai 69,18 tahun. Hal ini dapat dikatakan bahwa rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh penduduk di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2012 adalah 69,18 tahun.
Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2013
Sarana kesehatan didukung oleh adanya tenaga kesehatan. Banyaknya tenaga kesehatan di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2012 ada yang mengalami penambahan dan ada yang mengalami penurunan. Jumlah dokter umum meningkat dari 107 menjadi 116 dokter, Banyaknya dokter gigi menurun dari 34 menjadi 33. Jumlah bidan meningkat dari 251 menjadi 261.
Jumlah perawat mengalami penurunan dari 133 menjadi 129. Sedangkan jumlah perawat gigi mengalami kenaikan dari 11 menjadi 18.
Penolong kelahiran terakhir adalah tenaga kesehatan yang menolong ibu melahirkan saat terakhir akan melahirkan. Penolong kelahiran tahun 2012 mengalami pergeseran dimana semakin banyak ibu melahirkan yang ditolong oleh dukun atau meningkat dari 2,93 persen menjadi 4,82 persen. Penolong kelahiran terakhir oleh dokter menurun dari 14,93 persen tahun 2011 menjadi 13,54 persen tahun 2012. Adapun penolong tenaga kesehatan terakhir oleh bidan mengalami penurunan dari 80,50 persen menjadi 80,43 persen. Adapun penolong kelahiran terakhir oleh family di tahun 2012 sudah tidak ada lagi dimana pada tahun 2011 sebanyak 0,79 persen.
Kasus penyakit terbanyak di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2012 adalah Infeksi akut pada saluran pernapasan atas sebanyak 31 persen, 12 persen penyakit diare, 11 persen penyakit pada sistem otott dan jaringan, 9 persen penyakit tekanan darah tinggi, 9 persen penyakit lain pada saluran pernapasan bagian atas, 8 persen gastritis, 7 persen penyakit demam, 5 persen penyakit kulit alergi, 4 persen infeksi usus lain, dan 4 persen karies gigi.
Jumlah bayi dengan gizi buruk di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2008 sebanyak 95 jiwa, tahun 2009 sebanyak 85 jiwa, tahun 2010 sebanyak 65 jiwa, adapun tahun 2012 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011. Jumlah bayi gizi buruk tahun 2012 mencapai 87 jiwa atau turun 62,17 persen dibandingkan dengan tahun 2011. Hal ini menunjukkan gizi ibu hamil semakin meningkat di tahun 2012.
Persentase anak usia balita yang disusui selama 0 bulan adalah 2 persen, selama 1-5 bulan sebanyak 18 persen, selama 6-11 bulan sebanyak 17 persen, selama 12-17 bulan sebanyak 26 persen, selama 18-23 bulan sebanyak 16 persen dan balita yang disusui selama lebih dari 23 bulan sebanyak 21 persen. Hal ini menunjukkan bahwa program pemerintah dalam upaya pemberian asi eksklusif sudah tergolong lancar.
Angka harapan hidup di Kabupaten Serdang Bedagai meningkat dari tahun 2008 hingga 2012. Angka harapan hidup tahun 2008 mencapai 68,79 tahun. Angka harapan hidup tahun 2009 mencapai 68,89 tahun, tahun 2010 mencapai 68,98 tahun, tahun 2011 mencapai 69,08 tahun sedangkan tahun 2012 mencapai 69,18 tahun. Hal ini dapat dikatakan bahwa rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh penduduk di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2012 adalah 69,18 tahun.
Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2013
Pendidikan di Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2012 / Education in Serdang Bedagai Regency 2012
Angka partisipasi sekolah (APS) digunakan untuk melihat banyaknya penduduk usia sekolah yang sudah memanfaatkan fasilitas pendidikan yang ada. Meningkatnya angka partisipasi sekolah berarti menunjukkan adanya keberhasilan di bidang pendidikan terutama yang berkaitan dengan upaya memperluas jangkauan pelayanan pendidikan. APS terbagi menjadi usia 7-12 tahun, 13-15 tahun, 16-18 tahun, dan 19-24 tahun. APS tahun 2012 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2011. APS tahun 2012 usia 7-12 tahun sebesar 99,74 atau naik 0,49 dari tahun 2011. APS tahun 2012 usia 13-15 tahun sebesar 89,73 atau naik 0,44 dari tahun 2011. APS tahun 2012 usia 16-18 tahun sebesar 55,01 atau naik sebesar 0,27 dari tahun 2011. Sedangkan APS tahun 2012 usia 19-24 tahun sebesar 5,83 atau naik sebesar 0,08 dari tahun 2011.
Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan partisipasi sekolah anak yang bersekolah tepat waktu yang dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan yaitu SD (usia 7-12 tahun), SMP (usia 13-15 tahun), dan SMA (usia 16-18 tahun). APM-SD sebesar 88,07 persen, APM SMP/MTs sebesar 70,55 persen, sedangkan APM SMA/MA sebesar 73,11 persen. Angka Partisipasi Kasar (APK) diperoleh dengan membagi jumlah penduudk yang sedang bersekolah (atau jumlah siswa) tanpa memperhitungkan umur pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tersebut.
Jumlah sekolah di Kabupaten Serdang Bedagai Tahun Ajaran 2011/2012 sebanyak 609 yang terdiri dari 459 bangunan SD, 83 SMP, 38 SMU, dan 29 SMK. Di tingkat SD, memiliki 5.290 guru yang terdiri dari 5.009 guru SD Negeri dan 281 guru SD swasta. Jumlah murid SD sebanyak 78.603 murid terdiri dari 73.864 murid SD Negeri dan 4.739 murid SD swasta. Di tingkat SMP ada 1.798 guru yang terdiri dari 1.146 guru SMP negeri dan 652 guru SMP swasta. Jumlah murid SMP sebanyak 23.866 yang terdiri dari 17.757 murid SMP negeri dan 6.109 murid SMP swasta.Di tingkat SMU, terdapat 608 guru yang terdiri dari 608 guru SMU negeri dan 335 guru SMU swasta. Jumlah murid SMU sebanyak 11.005 yang terdiri dari 7.908 murid SMU negeri dan 3.097 murid SMU swasta. Di tingkat SMK, terdapat 696 guru yang terdiri dari 237 guru SMK negeri dan 459 guru SMK swasta. Jumlah murid SMK sebanyak 8.599 dimana 3.019 murid SMK negeri dan 5.580 murid SMK swasta.
Rasio murid terhadap guru mencerminkan rasio jumlah murid yang dibimbing oleh 1 orang guru. Rasio jumlah murid terhadap guru terbanyak adalah SD swasta yakni 17, sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah guru SD swasta masih banyak dibutuhkan di Kabupaten Serdang Bedagai. Adapun SMP swasta dan SMU swasta memiliki rasio murid terhadap guru terendah yaitu 9, dimana 9 murid dibimbing oleh 1 orang guru.
Angka melek huruf (AMH) adalah persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam kehidupan sehari-hari. AMH digunakan untuk mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf, menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media dan menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.
Angka melek huruf Kabupaten Serdang Bedagai dari tahun 2008 hingga 2012 terus mengalami kenaikan. Angka melek huruf tahun 2008 sebesar 97,39 persen kemudian meningkat di tahun 2009 menjadi 97,44 persen. Angka Melek huruf tahun 2010 meningkat lagi menjadi 97,7 persen, di tahun 2011 sebesar 97,80 persen dan tahun 2012 sebesar 97,81 persen. Angka melek huruf sebesar 97,81 persen dapat diartikan bahwa 97,81 persen penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Serdang Bedagai sudah bisa membaca dan menulis.
Rata-rata lama sekolah di Kabupaten Serdang Bedagai dari tahun 2008 hingga 2012 meningkat. Rata-rata lama sekolah tahun 2008 mencapai 8,6 tahun dan terus meningkat tahun 2009 sebesar 8,63 tahun, tahun 2010 sebesar 8,64 tahun, tahun 2011 mencapai 8,65 tahun dan tahun 2012 mencapai 8,67 tahun. Hal ini dapat dikatakan bahwa penduduk di Kabupaten Serdang Bedagai rata-rata lama sekolah hingga SMP kelas II atau III.
School Enrollment Rate (SER) is used to notice how many individuals of school-age population that intensify and utilize provided school facility. Increasing School Enrollment Rate implies that there is an evolving progress in education programs, particulary ones that pertain extensive accessibility of education service. SER is classified into each of respective cohorts, those are 7-12 years old, 13-15 years old, 16-18 years old, and 19-24 years old. SER in 2012 encountered slight increase compared to previous year. SER in 2012 for 7-12 year old was about 99,74 or increased 0,49 from 2011. SER in 2012 for 13-15 years old was 89,73 or increased 0,44 from 2011. SER in 2012 for 16-18 years old was 55,01 or increases 0,27 from 2011. And SER in 2012 for 19-24 years old was 5,83 atau increased 0,08 from 2011.
Net Enrollment Rate (NER) summarized participation of school children related to their timely age, it was divided into three education level categories, elementary school (7-12 years old), junior high school (13-15 years old), and high school (16-18 years old). NER of elementary school is 88,07 percent, NER of general and Islamic junior high school was 70,55 percent, and NER of general and Islamic high school was 73,11 percent. Gross Enrollment Rate (GER) was calculated by dividing on-school population (or population of students) without taking age of particular level of education into account by its respective level of education.
The number of school in Serdang Bedagai Regency at 2011/2012 School Year was 609, consisted of 459 elementary school buildings, 83 junior high school buildings, 38 high school buildings, dan 29 vocational school buildings. In elementary school level, there were 5.290 teachers, consisted of 5.009 public school teachers and 281 private school teachers. Elementary school students were about 78.603, consisted of 73.864 public school students and 4.739 private school students. In junior high school level, there were1.798 teachers, consisted of 1.146 public school teachers and 652 private school teachers. Junior high school students were about 23.866, consisted of 17.757 public school students and 6.109 private school students. In high school level, there were 608 teachers, consisted of 608 public school teachers and 338 private school teachers. High school students were about 11.005, consisted of 7.908 public school students and 3.097 private school students. In vocational school level, there were 696 teachers, consisted of 237 public school teachers and 459 private school teachers. Vocational school students were about 8.599, consisted of 3.019 public school students and 5.580 private school students.
Student–teacher ratio is the number of students who attend a school or university divided by the number of teachers in the institution, it implies a ratio of number of students that is conducted by a teacher. Highest student-teacher ratio was at private elementary school, it’s about 17. This indicates that Serdang Bedagai Regency requires more private elementary teacher. Private junior high school and high school had lowest student-teacher ratio, student-teacher ratio was about 9, it means 9 students were conducted by a teacher.
Literacy rate is a percentage of 15 year-old and over population than can read and write by means of understanding simple sentence in daily activities. Literacy rate is used to measure the attainment of illiteratcy eradication program, implying capability of related society in absorbing information from media and communicating either literally or orally.
Literacy rate of Serdang Bedagai Regency from 2008 to 2012 gradually had increased. Literacy rate in 2008 was 97,39 percent, then gradually escalated to 97,44 percent in following year. Literacy rate of increased again to 97,7 percent in 2011 and 97,81 percent in 2012. Literacy rate at 97,81 percent means that 97,81 percent from the whole 15 year-old and over population can duly read and write.
Average years of schooling in Serdang Bedagai Regency from 2008 to 2012 increased. Average years of schooling in 2008 reached 8,6 years and gradually increased to 8,63 years in 2009, 8,64 years in 2010, 8,65 years in 2011, and 8,67 years in 2012. This implies that education level of Serdang Bedagai Regency population is ordinarily at 2nd or 3rd grade in junior high school.
Sumber:Buku Publikasi Statistik Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2013
Source: Publication Book Regional Statistics of Serdang Bedagai Regency 2013
Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan partisipasi sekolah anak yang bersekolah tepat waktu yang dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan yaitu SD (usia 7-12 tahun), SMP (usia 13-15 tahun), dan SMA (usia 16-18 tahun). APM-SD sebesar 88,07 persen, APM SMP/MTs sebesar 70,55 persen, sedangkan APM SMA/MA sebesar 73,11 persen. Angka Partisipasi Kasar (APK) diperoleh dengan membagi jumlah penduudk yang sedang bersekolah (atau jumlah siswa) tanpa memperhitungkan umur pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tersebut.
Jumlah sekolah di Kabupaten Serdang Bedagai Tahun Ajaran 2011/2012 sebanyak 609 yang terdiri dari 459 bangunan SD, 83 SMP, 38 SMU, dan 29 SMK. Di tingkat SD, memiliki 5.290 guru yang terdiri dari 5.009 guru SD Negeri dan 281 guru SD swasta. Jumlah murid SD sebanyak 78.603 murid terdiri dari 73.864 murid SD Negeri dan 4.739 murid SD swasta. Di tingkat SMP ada 1.798 guru yang terdiri dari 1.146 guru SMP negeri dan 652 guru SMP swasta. Jumlah murid SMP sebanyak 23.866 yang terdiri dari 17.757 murid SMP negeri dan 6.109 murid SMP swasta.Di tingkat SMU, terdapat 608 guru yang terdiri dari 608 guru SMU negeri dan 335 guru SMU swasta. Jumlah murid SMU sebanyak 11.005 yang terdiri dari 7.908 murid SMU negeri dan 3.097 murid SMU swasta. Di tingkat SMK, terdapat 696 guru yang terdiri dari 237 guru SMK negeri dan 459 guru SMK swasta. Jumlah murid SMK sebanyak 8.599 dimana 3.019 murid SMK negeri dan 5.580 murid SMK swasta.
Rasio murid terhadap guru mencerminkan rasio jumlah murid yang dibimbing oleh 1 orang guru. Rasio jumlah murid terhadap guru terbanyak adalah SD swasta yakni 17, sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah guru SD swasta masih banyak dibutuhkan di Kabupaten Serdang Bedagai. Adapun SMP swasta dan SMU swasta memiliki rasio murid terhadap guru terendah yaitu 9, dimana 9 murid dibimbing oleh 1 orang guru.
Angka melek huruf (AMH) adalah persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam kehidupan sehari-hari. AMH digunakan untuk mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf, menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media dan menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.
Angka melek huruf Kabupaten Serdang Bedagai dari tahun 2008 hingga 2012 terus mengalami kenaikan. Angka melek huruf tahun 2008 sebesar 97,39 persen kemudian meningkat di tahun 2009 menjadi 97,44 persen. Angka Melek huruf tahun 2010 meningkat lagi menjadi 97,7 persen, di tahun 2011 sebesar 97,80 persen dan tahun 2012 sebesar 97,81 persen. Angka melek huruf sebesar 97,81 persen dapat diartikan bahwa 97,81 persen penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Serdang Bedagai sudah bisa membaca dan menulis.
Rata-rata lama sekolah di Kabupaten Serdang Bedagai dari tahun 2008 hingga 2012 meningkat. Rata-rata lama sekolah tahun 2008 mencapai 8,6 tahun dan terus meningkat tahun 2009 sebesar 8,63 tahun, tahun 2010 sebesar 8,64 tahun, tahun 2011 mencapai 8,65 tahun dan tahun 2012 mencapai 8,67 tahun. Hal ini dapat dikatakan bahwa penduduk di Kabupaten Serdang Bedagai rata-rata lama sekolah hingga SMP kelas II atau III.
School Enrollment Rate (SER) is used to notice how many individuals of school-age population that intensify and utilize provided school facility. Increasing School Enrollment Rate implies that there is an evolving progress in education programs, particulary ones that pertain extensive accessibility of education service. SER is classified into each of respective cohorts, those are 7-12 years old, 13-15 years old, 16-18 years old, and 19-24 years old. SER in 2012 encountered slight increase compared to previous year. SER in 2012 for 7-12 year old was about 99,74 or increased 0,49 from 2011. SER in 2012 for 13-15 years old was 89,73 or increased 0,44 from 2011. SER in 2012 for 16-18 years old was 55,01 or increases 0,27 from 2011. And SER in 2012 for 19-24 years old was 5,83 atau increased 0,08 from 2011.
Net Enrollment Rate (NER) summarized participation of school children related to their timely age, it was divided into three education level categories, elementary school (7-12 years old), junior high school (13-15 years old), and high school (16-18 years old). NER of elementary school is 88,07 percent, NER of general and Islamic junior high school was 70,55 percent, and NER of general and Islamic high school was 73,11 percent. Gross Enrollment Rate (GER) was calculated by dividing on-school population (or population of students) without taking age of particular level of education into account by its respective level of education.
The number of school in Serdang Bedagai Regency at 2011/2012 School Year was 609, consisted of 459 elementary school buildings, 83 junior high school buildings, 38 high school buildings, dan 29 vocational school buildings. In elementary school level, there were 5.290 teachers, consisted of 5.009 public school teachers and 281 private school teachers. Elementary school students were about 78.603, consisted of 73.864 public school students and 4.739 private school students. In junior high school level, there were1.798 teachers, consisted of 1.146 public school teachers and 652 private school teachers. Junior high school students were about 23.866, consisted of 17.757 public school students and 6.109 private school students. In high school level, there were 608 teachers, consisted of 608 public school teachers and 338 private school teachers. High school students were about 11.005, consisted of 7.908 public school students and 3.097 private school students. In vocational school level, there were 696 teachers, consisted of 237 public school teachers and 459 private school teachers. Vocational school students were about 8.599, consisted of 3.019 public school students and 5.580 private school students.
Student–teacher ratio is the number of students who attend a school or university divided by the number of teachers in the institution, it implies a ratio of number of students that is conducted by a teacher. Highest student-teacher ratio was at private elementary school, it’s about 17. This indicates that Serdang Bedagai Regency requires more private elementary teacher. Private junior high school and high school had lowest student-teacher ratio, student-teacher ratio was about 9, it means 9 students were conducted by a teacher.
Literacy rate is a percentage of 15 year-old and over population than can read and write by means of understanding simple sentence in daily activities. Literacy rate is used to measure the attainment of illiteratcy eradication program, implying capability of related society in absorbing information from media and communicating either literally or orally.
Literacy rate of Serdang Bedagai Regency from 2008 to 2012 gradually had increased. Literacy rate in 2008 was 97,39 percent, then gradually escalated to 97,44 percent in following year. Literacy rate of increased again to 97,7 percent in 2011 and 97,81 percent in 2012. Literacy rate at 97,81 percent means that 97,81 percent from the whole 15 year-old and over population can duly read and write.
Average years of schooling in Serdang Bedagai Regency from 2008 to 2012 increased. Average years of schooling in 2008 reached 8,6 years and gradually increased to 8,63 years in 2009, 8,64 years in 2010, 8,65 years in 2011, and 8,67 years in 2012. This implies that education level of Serdang Bedagai Regency population is ordinarily at 2nd or 3rd grade in junior high school.
Sumber:Buku Publikasi Statistik Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2013
Source: Publication Book Regional Statistics of Serdang Bedagai Regency 2013
Jumat, 07 Januari 2011
Pengertian Artificial Neural Network
Artificial Neural Network (ANN) merupakan salah satu contoh model non linear yang mempunyai bentuk fungsional fleksibel dan mengandung beberapa parameter yang tidak dapat diinterpretasikan seperti pada model parametrik. ANN juga dikenal dengan kotak hitam (Black Box Technology) atau tidak transparan (opaque) karena tidak dapat menerangkan bagaimana suatu hasil didapatkan. Hal inilah yang membuat ANN mampu digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang tidak terstruktur dan sulit didefinisikan.
Wutsqa (2006) dalam laporan penelitiannya menyebutkan bahwa ANN terbentuk dari suatu pengembangan model matematika yang mensimulasikan suatu teknologi intelegensi manusia dengan didasari oleh beberapa asumsi berikut:
a. Proses informasi terjadi pada banyak elemen sederhana yang disebut neuron.
b. Sinyal-sinyal dikirim antar neuron melalui connection-links (sinapsis).
c. Setiap sinapsis mempunyai bobot tertentu, tergantung tipe ANN.
d. Setiap neuron menggunakan fungsi aktivasi yang merupakan penjumlahan dari sinyal-sinyal input untuk menentukan sinyal-sinyal output.
Suhartono (2007) menyatakan bahwa secara umum, aplikasi non linear least squares pada ANN terbagi dalam dua pendekatan untuk meng-update bobot-bobot, yaitu yang dikenal dengan adaptasi off-line dan on-line. Pada adaptasi off-line, bobot-bobot di-update pada setiap pasangan input-output, sedangkan adaptasi on-line atau yang dikenal dengan batch mode, bobot-bobot hanya di-update setelah seluruh pasangan data input-output pada data training terproses.
Wutsqa (2006) menambahkan, ANN merupakan model regresi non linear dimana kompleksitas modelnya dapat diubah-ubah. Pada level kompleksitas yang rendah, ANN hanya terdiri dari satu lapisan input dan satu lapisan output. ANN memungkinkan untuk mengubah kompleksitas jaringan sehingga dapat mengakomodasi efek non linear. Hal ini dilakukan dengan menambahkan satu atau lebih hidden layer pada jaringan.
Wutsqa (2006) dalam laporan penelitiannya menyebutkan bahwa ANN terbentuk dari suatu pengembangan model matematika yang mensimulasikan suatu teknologi intelegensi manusia dengan didasari oleh beberapa asumsi berikut:
a. Proses informasi terjadi pada banyak elemen sederhana yang disebut neuron.
b. Sinyal-sinyal dikirim antar neuron melalui connection-links (sinapsis).
c. Setiap sinapsis mempunyai bobot tertentu, tergantung tipe ANN.
d. Setiap neuron menggunakan fungsi aktivasi yang merupakan penjumlahan dari sinyal-sinyal input untuk menentukan sinyal-sinyal output.
Suhartono (2007) menyatakan bahwa secara umum, aplikasi non linear least squares pada ANN terbagi dalam dua pendekatan untuk meng-update bobot-bobot, yaitu yang dikenal dengan adaptasi off-line dan on-line. Pada adaptasi off-line, bobot-bobot di-update pada setiap pasangan input-output, sedangkan adaptasi on-line atau yang dikenal dengan batch mode, bobot-bobot hanya di-update setelah seluruh pasangan data input-output pada data training terproses.
Wutsqa (2006) menambahkan, ANN merupakan model regresi non linear dimana kompleksitas modelnya dapat diubah-ubah. Pada level kompleksitas yang rendah, ANN hanya terdiri dari satu lapisan input dan satu lapisan output. ANN memungkinkan untuk mengubah kompleksitas jaringan sehingga dapat mengakomodasi efek non linear. Hal ini dilakukan dengan menambahkan satu atau lebih hidden layer pada jaringan.
Estimasi Tingkat Pengangguran Terbuka Level Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Menggunakan Feed Forward Neural Network
ABSTRAK
DWI ASIH SEPTI WAHYUNI, “Estimasi Tingkat Pengangguran Terbuka Level Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Menggunakan Feed Forward Neural Network”.
ix + 128 halaman
Pengangguran merupakan salah satu persoalan nasional yang sampai saat ini belum berhasil terpecahkan secara optimal. Usaha mengurangi jumlah pengangguran harus dititikberatkan pada daerah-daerah yang memiliki jumlah pengangguran terbanyak agar kebijakan akan tepat sasaran dan efektif. Oleh karena itu, diperlukan informasi yang lebih rinci dan tepat tentang pengangguran pada lingkup yang lebih kecil, seperti kecamatan, dan kelurahan/desa. Pengukuran pengangguran menggunakan data survei akan memberikan akurasi yang baik hanya pada level provinsi dan kabupaten. Permasalahan muncul ketika dari data survei ingin diperoleh informasi pada level yang lebih rendah, seperti kecamatan dan kelurahan/desa. Hal ini akan menyebabkan data survei kurang representatif karena ukuran sampel kurang cukup untuk menghasilkan data yang dapat dipercaya (reliable). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh estimasi pada level kecamatan dengan presisi yang lebih baik yaitu dengan cara menggabungkan data Sakernas dengan Sensus Penduduk atau disebut dengan metode Small Area Estimation. Pembangunan metode ini dilakukan dengan pendekatan Feed Forward Neural Network. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Lebak tahun 2008 sebesar 12,11 persen. Lima kecamatan di Kabupaten Lebak yang harus mendapatkan perhatian khusus pemerintah Kabupaten Lebak yaitu kecamatan Cibadak, Cukulur, Rangkasbitung, Warunggunung, dan Kalanganyar. Lima kecamatan tersebut memiliki angka TPT yang tinggi, yaitu di atas 15 persen.
Kata Kunci: feed forward neural network, tingkat pengangguran terbuka, small area estimation
DWI ASIH SEPTI WAHYUNI, “Estimasi Tingkat Pengangguran Terbuka Level Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Menggunakan Feed Forward Neural Network”.
ix + 128 halaman
Pengangguran merupakan salah satu persoalan nasional yang sampai saat ini belum berhasil terpecahkan secara optimal. Usaha mengurangi jumlah pengangguran harus dititikberatkan pada daerah-daerah yang memiliki jumlah pengangguran terbanyak agar kebijakan akan tepat sasaran dan efektif. Oleh karena itu, diperlukan informasi yang lebih rinci dan tepat tentang pengangguran pada lingkup yang lebih kecil, seperti kecamatan, dan kelurahan/desa. Pengukuran pengangguran menggunakan data survei akan memberikan akurasi yang baik hanya pada level provinsi dan kabupaten. Permasalahan muncul ketika dari data survei ingin diperoleh informasi pada level yang lebih rendah, seperti kecamatan dan kelurahan/desa. Hal ini akan menyebabkan data survei kurang representatif karena ukuran sampel kurang cukup untuk menghasilkan data yang dapat dipercaya (reliable). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh estimasi pada level kecamatan dengan presisi yang lebih baik yaitu dengan cara menggabungkan data Sakernas dengan Sensus Penduduk atau disebut dengan metode Small Area Estimation. Pembangunan metode ini dilakukan dengan pendekatan Feed Forward Neural Network. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Lebak tahun 2008 sebesar 12,11 persen. Lima kecamatan di Kabupaten Lebak yang harus mendapatkan perhatian khusus pemerintah Kabupaten Lebak yaitu kecamatan Cibadak, Cukulur, Rangkasbitung, Warunggunung, dan Kalanganyar. Lima kecamatan tersebut memiliki angka TPT yang tinggi, yaitu di atas 15 persen.
Kata Kunci: feed forward neural network, tingkat pengangguran terbuka, small area estimation
Langganan:
Komentar (Atom)